Bali Marathon April 22, 2012

Matahari belum memunculkan wajahnya, langit subuh dan temaram pagi memberikan damai sekaligus tekad dalam memulai perjalanan ini. Half-Marathon 21,0975 km.. sampai finish. Itulah tujuanku datang ke Bali April lalu, tahun ini.

Peserta Full Marathon telah mulai setengah jam yang lalu, Half-Marathon sebentar lagi. Aku mulai bersiap, maju ke barisan depan namun semakin banyak orang juga maju. Aku mundur dan bersama teman-temanku, Netty dan Nash. Terdengar tanda mulai berbunyi. Semua berlari.

Tidak seperti di Jakarta, kamu akan menemukan banyak sekali orang di belakangmu berjalan santai. Kali ini tidak, kali ini benar sebuah race. Yang amatir berlari saja belakangan, termasuk aku. ‘Yang penting jaga kecepatan lari’, terngiang-ngiang kata Fasta saat melatihku kemarin-kemarin. Stabil dengan kecepatan ini. Berulang kali kugaungkan dalam hati. Semua menyusul, aku ada dalam puluhan terbelakang.

Ini adalah pertandinganku. Tujuannya bukan mengalahkan orang lain. Tujuannya adalah mencapai garis finish. Kudengungkan terus dalam kepala. Netty mulai menjauh ke depan. Aku tak bisa lagi menjaga jarakku dari belakang. Tak bisa lagi menjaga kekonsistenan lariku. Aku berhenti dan berjalan di km 6. Nash tetap di sampingku. Bersyukur sekali saat kamu mendapatkan partner pada masa-masa tersulitmu. Lebih terasa ringan dan merasakan tidak akan gagal.

Seorang kakek mendahuluiku. Ia berjalan sangat cepat. Tiga orang lagi mendahuluiku. Great.. Satu orang lagi, dan satu orang lagi.. Nash tetap disampingku. Lari Marathon ada dalam his 100 things to do list while he’s on earth. Jadi, ini juga pengalaman pertamanya. Tanpa latihan lagi. Fisiknya memang kuat.

Dalam lari, kami melewati perkampungan bali dan pelosok kampungnya, sangat indah.. Saking indahnya ada beberapa pelari dari Singapore yang berhenti untuk berfoto ria dan menikmati sawahnya. Mereka mengambil foto angsa dan anjing di tepi selokan irigasi, kata mereka tak ada yang seperti ini di Singapore.

Di setiap beberapa km, telah siap kerumunan anak-anak sekolahan mulai dari TK/SD hingga SMA dan bahkan bapak-bapak/ibu2 bli.. semua menyemangati dengan umbul2, ada yang menebarkan bunga, memakai baju daerah dan menari, berteriak dan memberikan tos, semua semangat itu berpadu dalam terang matahari yang telah cerah dan mulai panas.. Awalnya ku menggerutu oh noo.. harus tersenyum dan menarik kakiku lebih cepat untuk membalas semangat mereka, namun di kerumunan berikutnya aku menerima semangat mereka lebih hormat, kupaksakan kakiku melangkah lebih bertenaga saat mereka meneriakan semangat. Kalau tidak ada mereka, mungkin semangat telah patah dari setengah perjalanan.

Seekor babi besar sepinggangku berwarna pink menyebrang saat kuberlari. Baunya menusuk, seperti bau babi. Aku tidak menyangka babi hidup sama baunya dengan babi panggang. Sayang, tidak selucu babi kecil. Aku pun tidak bisa menculiknya.

Melewati tengah perjalanan marathon ini aku mulai bertemu dengan peserta Full-Marathon di tengah jalan, rute kami kembali bersatu. Mereka lari lebih cepat dan stabil. Beberapa dari mereka menyemangatiku untuk terus berlari. Jangan sampai berhenti. Full Marathon, jarak mereka: 42,195km; dua kali lipat jauhnya namun mereka masih berlari lebih cepat dari kondisiku. Latihan membuahkan hasil ketahanan stamina dan mental.

Di setiap 2-5km tersedia bantuan medis dan air. Setiap melihatnya, godaan untuk beristirahat muncul. Air yang disodorkan lama-lama memenuhi rongga perutku dan sepertinya aku ingin mengganti kaki saja di posko bantuan berikutnya. Yang paling menyegarkan dari semua air dan isotonik itu adalah potongan jeruk yang diberikan. Sayang hanya kuambil satu dan tidak mungkin aku berbalik, jeruk itu hanya ada di satu posko saja. Penyesalan yang cukup panjang. Jeruknya sungguh enak. Lapar. Temanku sempat berhenti untuk membeli pisang. Pada beberapa km terakhir kami berpisah.

Aku sudah tidak kuat, harus kuhilangkan kata-kata ‘aku tidak kuat’ itu. Aku berlari hingga hitungan 30, lalu aku berjalan, lalu aku berlari lagi hingga hitungan 30, lalu berjalan lagi. Hitungan 30 terasa panjang dan lariku seberat babi tadi. Kakiku sudah mau lepas. Harus kuakui interval lari ini menyelamatkanku. Kakek yang tadi melewatiku kulihat sedang diberikan bantuan medis. Kakinya seperti terluka. Aku melewatinya mau tak mau :p Aku melihat kembali orang-orang yang tadi telah mendahuluiku, mereka didepanku sana. Asal aku konsisten, aku bisa menyamai mereka yang kini sedang berjalan. Laki-laki tinggi besar yang melewatiku dengan berjalan cepat juga telah kulewati. Tak menyangka.

Kakiku semakin sakit, dan aku tak tahan ingin pipis. Toilet tidak lagi disediakan pada jarak-jarak terakhir ini. Dan izin ke toilet pada rumah-rumah di kanan kiriku akan menghabiskan 5 menit yang sangat berharga. Pikiran memang mulai lebay pada saat-saat seperti ini. Kamu hanya ingin mencapai garis finish sebelum kamu tidak lagi kuat. Itu saja. Aku pipis sedikiiiittt di celana, mau tak mau, karena sudah terus menahan pipis. Air-air yang disodorkan padaku sudah tak menarik bagi kandung kemihku walaupun kerongkongan telah panas menganga. Hal pertama yang ingin kulakukan begitu melewati garis finish adalah pipis. Terbukti begitu aku mendapatkan medali, aku langsung mengambil botol air dingin, masuk ke toilet, pipis dan mengguyur tubuhku. Seperti godzila yang riang mendapatkan air di musim panasnya.

Di garis finish aku bertemu kembali dengan teman-temanku. Menyenangkan rasanya mengetahui telah menyelesaikan pertandingan kita masing-masing. Lega, Lelah, Bangga, campur aduk semuanya. Memuaskan. Hitam kulit kuanggap sebagai hadiah yang patut kuterima. Mengucap syukur kepada Tuhan, mengucap syukur kepada semua teman-teman, mengucap syukur kepada diri sendiri. Bahagia.

Beberapa hari sebelumnya aku masih mengalami demam gejala tipes. H-1 kupakai waktu sebanyak mungkin untuk beristirahat. Jadilah apa yang kamu percayai. Target awalku adalah 3 jam 30 menit, aku menempuhnya 3 jam 14 menit. God is super Goodd.. Beberapa hari setelahnya tubuhku rontok, aku tidak bisa bangun hingga hari ketiga. Still.. God is Good..

Akhirnya, walaupun Marathon ini adalah sebuah perlombaan/race bagi semua peserta, ini juga adalah pertandingan individu, untuk setiap orang mengalahkan dirinya, terus memacu dirinya, dalam segala kondisi hingga ke garis Finish. Saat kamu sudah mulai, kamu tidak bisa lagi mundur. U can only move forward.. hmm seperti pelajaran  hidup yang telah mengental di darahmu bukan? :p

Leave a Reply