catatan ttg Merdeka dan Indonesia

merah putih ku

Saat beberapa gejala depresi seperti perubahan waktu tidur, merasa tidak puas, atau mudah bosan, tidak bersemangat mulai menghinggapi saya, saya menerima satu undangan dari seorang sahabat untuk membantu dia di sebuah seminar, saya tahu bahwa mengalami hal baru bisa membuat sel-sel otak berbuah dan berlipat ganda, juga cenderung memberi senyuman di wajah. Well, seminar ini layak dicoba.. setidaknya untuk melepaskan diri saya dari sang bantal.

Daoed Jusuf.

Seseorang yang menjadi pembicara dalam seminar tsb. Hmm..siapa dia? Oke, kini waktunya anda bisa membodohi saya, yak benar, saya belum tahu. Tentu saja nama dia samar2 familiar, namun secara persis, diluar ‘tokoh indonesia’, saya buta.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983)

Pernah menolak suatu jabatan oleh karena jika ia menerimanya, ia dilarang menulis. Pada zaman mudanya, saat pemerintahan belanda masih berkuasa di indonesia, menuliskan suatu ide lalu menyebarkannya tentu saja berbahaya bagi mereka. Am, am, mereka tidak mau itu. Daoed pun tidak mau. Ia memilih untuk menulis. [see.. bagaimana kemudian perkataan beliau terus terekam dalam ingatan saya].

Saya menuliskan beberapa buah pemikiran darinya sehubungan dengan Indonesia.
1. Jangan pernah lupa negara bangsa Indonesia lahir dari revolusi. Sewaktu merdeka, telah ada suku Aceh, Minangkabau, Jawa, Batak, dan masing-masing punya hukum ada dimana Belanda sangat menghormati itu dengan menuliskan dan mempelajarinya, dan sekarang anehnya hukum adat tidak lagi diajari di Indonesia. Sekarang ada suku-suku yang kecewa ingin lepas dari republik, seperti di Aceh, Dayak, dan Papua. Tidak pernah merasa di-“orang”kan. Melihat bumi dibongkar, GNP naik namun tidak dapat apa-apa. Kita pakai ukuran yang salah dalam mengukur kemajuan bangsa. Kita lahir dari revolusi bukan dari buku teks ekonomi. Jadi, dimana kemerdekaan ini?

2. Karena kita berbeda-beda suku namun satu rakyat, bagaimana menyatukan? Kata Soekarno mengutip Renault: the nation is a will to live together. Bangsa yang bersatu membutuhkan derajat dan martabat. Keinginan untuk dihargai sebagai manusia.

3. Apa Indonesia itu? Indonesia adalah sebuah nama yang tidak berubah untuk kenyataan dan kebenaran yang terus menerus berubah. Sebelum kita merdeka, kita merindukan keadilan. Di Pancasila ada dua kata adil (hayok di sila mana saja?). Dulu yang dianggap sama rata adalah sama-sama bisa makan 2 piring. Tapi itu berubah, misalkan sama-sama 2 piring, namun yang satu isinya daging dan sayur, yang satunya berisikan tahu tempe. Image ‘adil’ berubah. Waktu ada kecelakaan KA terjadi karena kelalaian masinis, masinis dikatakan makan hanya 1 piring dalam sehari. Pilot memiliki gaji lebih besar, sedangkan masinis membawa jiwa lebih banyak , mengapa gajinya tidak besar? Keadilan berubah, tetapi namanya tetap; Indonesia. Apa ukuran keadilan? Adil adalah kepada setiap orang sesuai kebutuhannya, dari setiap orang sesuai kemampuannya.

4. Bung Karno mengatakan: kemerdekaan adalah jembatan emas. Jembatan untuk membangun negara bangsa. Bung Hatta mengatakan: we want to build a world where everybody’s happy. Happy bukan ukuran ekonomi, dalam ekonomi adanya istilah welfare. Happiness adalah at the same time to have more and to be more. Pembangunan Indonesia seharusnya seperti itu, menjadi lebih mulia melalui pendidikan. Orang butuh dirinya menjadi manusia, dan kemajuannya adalah berpikir, yang akhirnya mencerdaskan kehidupan bangsa

5. Hasil akhir yang nyata dalam sebuah pembangunan adalah partisipasi oleh orang-orang yang daerahnya sedang dikembangkan. Walau orang itu tidak sekolah, tapi dia adalah orang. Dia rakyat. Dia harus dihadirkan. Dengan cara itu, dia dihargai. Saya tidak setuju mereka berontak, tapi saya memahami pemberontakan mereka. Mereka hanya jadi penonton tapi tidak ikut disertakan. Contoh: Kita terbiasa menilai besaran proyek berdasarkan biaya yang kita keluarkan (financial cost), seperti pembangunan selat sunda sebesar Rp 250 triliun. Tapi kita harus pikirkan opportunity cost-nya, yaitu nilai yang tidak kita nikmati karena kita memilih yang lain. Contoh: beli pisang atau rokok, dimana kalau saya pilih rokok, harga rokok adalah senilai pisang yang tidak bisa saya nikmati. Untuk rokok, saya harus korbankan mutu gizi yang bisa saya dapatkan dari sebuah pisang. Rp 250 triliun dapat dipakai untuk pembangunan dermaga, AL, coast guard, dll. Sebagai negara maritim, panjang laut kita adalah 1.5 kali pulau kita. Yang juga ada di negara kita adalah nelayan, kita harus membangun desa pantai. Kenapa dahulu Malaysia bisa berani mengambil warga kita di lautan dan mengadilinya di negara mereka? Karena kita ga punya kapal perang. Kita bangun lagi batang terendam. Negara maritim harus punya kapal: kapal dagang, kapal perang, kapal pencari ikan. Ada pahlawan-pahlawan maritim: Malahayati dari Aceh, pahlawan wanita yang memimpin perang dengan kapal laut dan menang melawan kapal Portugis, ada Hang Tuah, ada Hang Jebat. Tokoh-tokoh itu benar pernah  ada. Dua per tiga dari Indonesia adalah air, lautan yang kaya. Indonesia adalah negara Archipelago. Archipelago itu bukan pulau-pulau dikelilingi air, tapi air yang berisikan pulau-pulau.

6. Pemimpin itu punya power, kekuatan dan kekuasaan, untuk memecahkan masalah bersama, sehingga orang-orang tidak merasa dipaksa untuk dipimpin. Pemimpin yang paling ideal adalah Moses, tokoh yang ada di Alquran atau Alkitab. Ia bertanggung jawab memimpin bangsa Yahudi untuk keluar dari perbudakan negri Mesir sampai ke Kanaan. Moses punya prioritas, setelah tiba di muka Kanaan dia tidak ikut masuk. Yang masuk menggantikannya adalah Yozhua. Sedang pemimpin yang sekarang banyak yang ingin masuk duluan, kepentingannya dahulu, sedang rakyatnya tunggu diluar. Bukan kualitas seperti itu yang dikehendaki.  Tiga kualitas dalam seorang pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini:

–  Bertanggung jawab
Pemimpin juga bertanggung jawab untuk mengembangkan tim-nya, tidak mau hanya dia sendiri yang maju. Kalau anak saya tanya, seringkali saya jawab tidak tahu, nanti papa lihat di buku. Dia lihat saya buka buku untuk menjawabnya, lama-lama ia tahu jawabannya ada di buku. Dia tidak tergantung lagi kepada saya, tapi dia bisa cari di buku. Saya bangga sekali waktu lihat dia menyodorkan buku-buku untuk dibaca kepada teman-temannya yang bertandang ke rumah.

–  Prioritas
You can not please everybody, karena jika berusaha untuk menyenangkan semua orang, you can not make decision. Harus ada prioritas. Concern pada hal-hal lain diluar organisasi: masalah lingkungan, orang-orang kurang beruntung, minoritas.

–  Mampu menderita
Sebuah kecelakaan KA terjadi di Jepang, mentri merasa bertanggung jawab dan mengundurkan diri. Di Indonesia, sebuah kecelakaan KA terjadi, mentri kita tetap sama. Presiden kita berkuasa daripada Ratu Elizabeth, ia sekaligus kepala negara dan kepala pemerintahan, tapi sedikit sekali ia hadir dalam masa-masa kritis dan penderitaan rakyatnya.
Demikianlah kata beliau.

Banyak sekali ya catatanku, itu pun cuma sebagian :p seharusnya saya tidak menuliskan di sini.. tapi 2 jam itu berlangsung sangat singkat dan masih ada lebih banyak lagi mengisi dalam pikiran dan hatiku. Saya tergugah. Seorang tua berusia 86 tahun ini sedang mentransferkan sesuatu yang besar kepada pendengarnya. Nilai-nilainya, visinya, mimpinya tentang bangsa ini. Ia menggenerasikan nilai-nilai penting kepada yang muda, seperti aliran air yang mengalir dari atas menuju bawah. Diturunkan. diwarisi.

Saya selalu suka pada tuturan orang tua, mungkin karena saya tidak sempat merasakan punya kakek. Mungkin juga karena kekaguman karena daya kognisi mereka. Mungkin juga karena mereka menggerakkan apa yang ada dalam hati saya; semangat, nilai, dan tujuan; mengapa saya dilahirkan dan mengapa hidup saya tidak bisa sia-sia.

Goenawan Mohamad
[ada yang ga tahu? Hhmm. dia adalah seseorang yang saya follow di twitternya *sokbego *jk :p]
Karena ingin selalu saya simpan dan ingat, izinkan saya mengutip beberapa tweetnya ttg kemerdekaan dan bangsa ini: “Kemerdekaan Indonesia digerakkan oleh cita-cita universal, bukan cuma untuk kelompok sendiri, bangsa sendiri. Kemerdekaan “hak semua bangsa”. Jutaan orang meninggalkan Jakarta untuk “mudik”. Rasanya tak ada yang mencintai kota ini, tapi tak ada yang mau meninggalkannya.Jangan-jangan selalu ada sudut yang kita sayangi bahkan di kota yang tak kita sukai. Jangan-jangan begitulah kita menerima hidup di dunia. Terkadang bangga jadi orang Indonesia, terkadang sedih. Tapi rasanya tak mungkin melepaskan Indonesia. Patriotisme kadang-kadang disalahgunakan. Tapi apapun namanya, ada yang menyebabkan lagu “Syukur” dan “Padamu Negeri” menggetarkan hati. Karena ada Republik, ada guru-guru yang mengajar saya membaca, berhitung, olahraga, menyanyi, menari, dll. Saya tak akan lupa.”

Ah, inilah yang seharusnya manusia muda dapatkan. Pembelajaran dari yang tua, penurunan visi dan kepercayaan, sehingga ia tahu dan terbuka matanya. Betapa penting arti sebuah bangsa. Betapa penting arti sebuah kemerdekaan. Siapa yang mengecap perjuangan mula-mula kalau bukan mereka yang telah mendahului kita, rasa hormat akan mendatangkan pendengaran dan pengertian sehingga apa yang telah dibangun diteruskan dengan berkesinambungan dan berkembang jauh lebih anggun.

Demikianlah setitik pencerahan ini. Terbukti tidak membiarkan saya memeluk bantal sebelum saya menuliskannya. Saya mengucap syukur buat kemerdekaan yang Tuhan  telah beri bagi bangsa ini, bagi diri saya, bahkan bagi dunia ini [jika orang menyadarinya]. Seterusnya, kami ingin merdeka, Tuhan. Amin.

Leave a Reply