Usia 2 – 4 tahun adalah usia dimana banyak sekali perkembangan anak kita mudah diamati, khususnya di area komunikasi dan motorik. Anak kita mulai banyak bertanya “Apa ini?”, “Apa itu?”, “Kenapa?” atau mengeluarkan kata-kata yang bahkan tidak kita ajarkan, entah dapatnya darimana. Usia dimana dia sangat senang bereksplorasi, menikmati gerak tubuhnya sendiri, ia senang berjalan, berlari, melakukan semuanya sendiri, dengan inisiatifnya sendiri, dan tanpa ia sadari melatih kemampuan motorik kasar dan motorik halusnya.

 

Saat kita menulis, ia juga ingin ikut menulis. Mengambil pulpen kita dan mencoret-coret. Tanpa sadar, kita ikut bersemangat dan mulai mengajarkan dia menulis dengan goal yang tinggi, yaitu ia bisa menulis huruf. Kemudian kita ingin ia bisa membaca juga. Dan juga berhitung. Lalu kita pikir kalau ia bisa membaca, menulis, dan berhitung, maka ia sukses menjadi anak yang pintar. Tapi benarkah itu goalnya? Adakah yang kita lewati atau goal yang lebih besar dari itu?

 

Menurut Bapak Erikson* dan Bapak Piaget*, usia 1 – 5 tahun adalah usia dimana anak perlu memiliki keyakinan bahwa ia bisa, atau ia mampu; dan bahwa ia boleh memiliki inisiatif untuk belajar atau bereksplorasi. Ia juga boleh bebas bertanya, bebas mengungkapkan pikirannya, bisa mengerti apa yang salah dan apa yang benar, dan mengembangkan imajinasinya. Hal-hal ini penting sekali untuk pembentukan basis dirinya agar saat ia dewasa, ia menjadi individu yang nyaman dengan dirinya, mampu mengambil keputusan-keputusan yang logis dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, mampu berelasi secara sehat dengan lingkungannya, dan bahagia. Hal-hal ini tidak dibangun saat ia sudah remaja atau telah menjadi dewasa, ternyata jika dibangun di usia balita akan membantu anak menjadi siap belajar saat masuk sekolah formal nantinya; seperti ia akan mampu bertahan duduk diam di kelas, memberikan fokus dan perhatian, dan berteman dengan teman-teman di sekolahnya nanti.

 

So, Apa goalnya?

  1. Goal dalam perkembangan dirinya yang esensial adalah ia perlu memiliki keyakinan bahwa ia bisa, mulai percayakan hal-hal yang dia mampu lakukan sendiri. Jika ia sudah bisa makan sendiri, biarkan ia makan sendiri. Jika ia sudah bisa tidur sendiri, tidak apa-apa ia tidur sendiri. Jika ia mau memiliki tas sendiri, biarkan ia bertanggung jawab terhadap tasnya dan membawa tasnya sendiri. Saat anak dapat melakukan tugasnya sendiri, ia akan merasa bisa. Ini akan menambah kepercayaan dirinya. Dan saat anak merasa percaya diri, ia akan merasa bebas untuk mengekplorasi lingkungannya, mencoba yang baru, dan mengembangkan minatnya. Disinilah lalu proses belajar dan berpikir terjadi di dalam otaknya.

 

  1. Tetap memiliki aturan dan teguran yang tujuannya bukan untuk mempermalukan dia tetapi untuk mengajar dia dan akan membantu dirinya melihat bahwa orangtuanya memperhatikan kesulitannya. Saat ia salah melakukan tugasnya atau ia tidak bisa, kita ada disitu untuk membantu dirinya memperlihatkan apa yang benar. Misalnya ia tidak mau makan, kita dapat memberikan bimbingan dengan mengatakan, “kamu tidak mau makan. Sepertinya kamu sudah kenyang ya. Nanti saat lapar kamu bisa datang lagi ke Mama.” Atau “Kamu sekarang sudah capai, jadi kamu menangis dan marah-marah. Kita istirahat saja supaya badan kamu lebih segar.” Atau “kamu berbohong mengambil permen. Mama bilang kamu bisa ambil permen satu saat kamu sudah makan. Lain kali kamu bisa ambil setelah makan. Permennya akan tetap ada untuk kamu.” Dengan memberitahukan aturan kepada anak kita secara konsisten dan positif, akan membantu anak kita mengerti persepsi orang-orang lain di luar dirinya terhadap dirinya. Apakah ia dipandang sebagai anak yang bermasalah dan susah diatur, apakah ia dipandang sebagai anak yang berharga dan kita ingin dia tahu bahwa kita benar-benar menyayanginya? Batasan dan bimbingan yang jelas dari kita akan membantu anak melihat dirinya sebagai diri yang positif. Ia akan lebih mudah meregulasi emosi dirinya dan mampu melewati masa-masa tantrum yang umum pada usia ini. Ia tahu orangtuanya ada bukan untuk menghukum atau mempermalukan dia, tetapi untuk membantu dia melewati perasaan yang tidak nyaman baginya. Akibatnya, ia akan menjadi anak yang berani untuk menjadi dirinya dan tidak malu-malu atau tidak takut untuk bereksplorasi dan belajar. Tentu saja ini basis yang baik sekali untuk mempersiapkan anak nantinya masuk ke lingkungan sekolah formal.

 

 

Jadi, kalau lain kali anak kita di usia dininya ingin menulis dan mencoret-coret apa yang kita perlu lakukan?

  • Kita ikuti minatnya. Kita bisa berikan wadahnya seperti memberikan ia kertas yang besar, memberikan spidol, crayon, atau alat tulis yang ukurannya nyaman untuk tangannya mencoret-coret, membiarkan dia melakukan coretan dengan tidak sempurna. Keluar garis sangat tidak apa-apa di usia ini 😉
  • Kita ada di sampingnya dan melihat apa yang sedang dia lakukan. Melihat saja sudah menunjukkan perhatian kita. Kita memberikan dukungan emosional yang positif kepada anak kita. Dia akan merasa bahwa kita ada untuknya. Usahakan tidak disambi kita melihat handphone karena ada kemungkinan anak kita akan merasa bahwa kita tidak sepenuhnya untuk dia. Pada waktu ini, kita ingin menunjukkan kepada anak kita bahwa ia penting dan ia diperhatikan.
  • Kita memberikan appraisal/pujian/acknowledgement/recognition. Pujian seperti apa sih yang perlu kita ucapkan? Kalau kita bingung, nyatakan saja apa yang sedang atau yang telah ia buat, misalnya, “Wah, kamu bikin coretan besar-besar seperti ini. Lihat ada yang lingkaran, ada yang garis panjang seperti ini.” Telusuri gambarnya dengan jemari anda sehingga anak merasa bahwa karyanya penting. Kita dapat melihat matanya, tersenyum, dan memberikan pernyataan seperti, “Mama/Papa senang melihat kamu menikmati membuat ini.”

Dengan kita melakukan ketiga tips praktis diatas, kita mendukung eksplorasi anak kita, memberikan keyakinan kepada anak kita bahwa ia bisa, tidak mematikan jiwa belajar anak, dan anak akan menikmati proses belajarnya. Sehingga kemampuan baca, tulis, hitung tinggal tunggu waktu saja. Tetapi yang paling penting dari sini, kita membantu pembangunan arsitektur otak anak kita secara lebih positif dan sehat.

 

 

 

 

*Bapak Erikson adalah psikolog dan psikoanalis dari Jerman yang terkenal akan teorinya mengenai perkembangan Psikososial. Bapak Piaget adalah psikolog dari Swiss yang terkenal dengan teori perkembangan Kognisi. Bapak-bapak ini banyak menyumbang pengetahuan pada dunia perkembangan dan pendidikan anak. Bukankah kita senang ada kaum bapak yang sangat peduli dengan perkembangan anak-anak kita ini? 😉

 

Leave a Reply